MARTINI
Oleh: Kurniawan Lastanto
wanita itu bernama Martini. Kini ia
kembali menginjakkan kakinya di lndonesa, setelah tiga tahun ia meninggalkan
kampung halamannya yang berjarak tiga kilometer dari arah selatan Wonosari
Gunung Kidul.
Didalam benak Martini berbaur rasa senang, rindu dan haru. Beberapa jam lagi ia akan berjumpa
kembali dengan suaminya, mas Koko dan putranya Andra Mardianto, yang ketika ia tinggalkan masih berusia tiga tahun. Ia membayangkan putranya kini telah duduk dibangku sekolah dasar mengenakan seragam putih – merah dan menmpati rumahnya yang baru, yang dibangun oleh suaminya dengan uang yang ia kirimkan dari arab Saudi, Negara dimana selama ini ia bekerja.
Martini adalah seorang tenaga kerja wanita yang berhasil diantara banyak kisah mengenai tenaga kerja wanita yang nasibnya kurang beruntung. Tidak jarang seorang TKW pulang ketanah airnya dalam keadaan hamil tanpa jelas siapa ayah sang janin yang dikandungnya. Atau disiksa, digilas dibawah setrikaan bersuhu lebih dari 110 derajat celcius, atau tiba – tiba menjadi bahan pemberitaan di media massa tanah air karena sisa hidupnya yang sudah ditentukan oleh vonis hakim untuk bersiap menghadapi tiang gantungan atau tajamnya logam pancung yang kemudian membuat kedubes RI, Deplu dan Depnaker kelimpungan dan tampak lebih sibuk.
Sangatlah beruntung bagi Martini mempunyai majikan yang sangat baik, bahkan dalam tiga tahun ia bekerja, ia telah dua kali melaksanakan umroh dengan biaya sang majikan. Majikannya adalah seorang karyawan disalah satu perusahaan minyak disana. Ia bekerja sebagai seorang pembantu rumah tangga di El Riyadh dengan tugas khusus mengasuh putra sang majikan yang sebaya dengan Andra, putranya. Hal ini membuatnya selalu teringat putranya sendiri dan menambah semangat dalam bekerja.
Dengan cermat Martini memperhatikan sekeliling, akan tetapi ia tidak melihat seorang saudara atau kerabatpun yang ia kenal. Sempat terbersit rasa iri dan kecewa ketika ia menyaksikan beberapa rekanannya yang dijemput dan disambut kedatangannya oleh orang tua, anak atau suami mereka. Namun dengan segera ia membuang jauh – jauh pikiran tersebut. Ia tidak ingin suuzon dengan suaminya.
“mungkin hal ini disebabkan karena kedatanganku yang memang terlambat tiga hari dari jadwalkepulangan yang direncanakan sebelumnya,” pikirnya huznuzon.
Dan pikiran ini malah membuatnya merasa bersalah, karena ia tidak memberitahukan kedatangannya melalui telepon sebelumnya.
Akhirnya ia memutuskan untuk menuju terminal pulogadung dengan taksi bandara. Oleh karena ia tidak tahu dimana pool bus maju lancar terdekat dari bandara soekarno-hatta, ia berharap diterminal pulogadung ia bisa langsung menemukan bus tersebut dan membawanya ke wonosari dengan nyaman, karena badannya sekarang sudah terlalu letihuntuk perjalanan panjangyang ditempuh dari arab Saudi.
Tanpa ia sadari, martini telah sampai didepan rumahnya, rumah yang merupakan warisan ayahnya, yang ia huni bersama mas koko, andra dan ibunyayang telah renta. Namun bingung dan pertanyaan muncul dalam benaknya. Yang ia lihat hanyalah rumah tua tanpa berubahan sedikitpun, kecuali kandang sapi didekat rumahnyayang kini telah kosong. Sama keadaanya dengan tiga tahun lalutatkala ia meninggalkan rumah tersebut.
“ mana rumah baru yang mas koko bangun seperti yang ada difoto yang mas koko kirimkan tiga bulan yang lalu. Apakah ia membeli tanah ditempat lain dan membangunnya disana. Kalau begitu syukurlah,” pikirnya mencoba huznuzon.
Ia ketuk perlahan – lahanpintu rumahnya. Namun tidak ada seorangpun yang muncul membukakan pintu “kulo nuwun, mas…! Andra…! Mbok…!”
Beberapa saat kemudian barulah pintu yang terbuat dari kayu glugu tersebut terbuka.” Madosi sinten mbak?” Tanya seorang bocah berusia 6 tahun yang tak lain adalah andra yang muncul dari balik pintu.
“Andra aku ini ibumu, sudah lupa ya. Apakah bapakmu tidak menceritakan ihwal kedatanganku?” ucap martini balik bertanya.
“Ayah? Kedatanagn ibu? Oh mari masuk. Sebentar ya, andra bangunkan mbah dulu,” ujar Andra sambil berlari menuju kearah kamar neneknya.
Martini masuk kedalam rumah dan duduk diatas amben yang terletak disudut ruangan depan, seraya memperhatikan keadaan didalam rumah yang ia huni sejak kecil tersebut. Keadaan dalam rumahpun tidak tampak ada perubahan yang berarti.
“Martini ya. Wah – wah anakku sudah datangdari perantauan,” terdengar suara tua khas ibu martini sedang setengah berlari keluar dari kamarnya, menyambut kedatangan anaknya, diikuti oleh andra , membawakan segelas the hangat.
“bagaimana keadaan simbok disini?”, Tanya martini.
“oh, anakku simbok di sini baik – baik saja, kamu sendiri bagaimana, tini?” “saya baik – baik saja mbok, ngomong – ngomong mas koko dimana mbok?” Tanya martini. Mendengar pertanyaan itu, tiba – tiba air muka ibu martini berubah, ia tampak berpikir – piker sejenak.
“ oh mengenai suamimu, nanti akan simbok ceritakan, sebaiknya kamu ngaso dulu. Kau pasti capek setelah melakukan perjalanan jauh. Jangan lupa the hangatnya diminum dulu,” saran ibu martini.
Martini menurut saja apa yang dikatakan ibunya. Setelah menikmati segelas the hangat, ia mengangkat kaki dan tiduran di atas amben. Namun tetap saja ia tidak dapat memejamkan matanya. Pikirannya tetap melayang memikirkan suaminya ; dimana dia, apakah dia merantau ke Jakarta untuk turut mencari nafkah diperantauan, dimana letak rumah barunya, atau apakah mas koko malah meninggalkan dirinya dan menikah dengan wanita lain?”
“ah tidak mungkin,” pikirnya kembali berusaha untuk tetap huznuzon.
Ia mencoba bangkit lalu menemui ibunya yang sedang memasak dipawon.
“maaf Mbok, dimana mas koko, tini sudah kangen dan ingin berbicara dengannya,” ujar martini membuka kembali percakapan. Ibu martini tampak kembali berfikir sejenak, lalu berdiri dan mengambil segelas air putih dingin dari kendi.
“ minumlah air putih ini agar kamu lebih tenang, Tini, nanti simbok ceritakan di mana suamimu berada, kalau kamu memang sudah tidak sabar.”
Sementara itu martini bersiap untuk mendengarkan dengan seksama penuturan ibunya.
“ tiga bulan lalu rumah yang dibuat suamimu atas biaya dari kamu sudah jadi. Letaknya didusun sebelah sana, namun sejak itu pula kesengsem sama seorang wanita. Wanita itu adalah tetangga barunya. Dua bulan lalu mereka menikah dan meninggalkan andra bersama simbok. Tentu saja simbok marah besar kepadanya. Namum apa daya, simbok hanyalah wanita yang sudah renta, sedang ayahmu sudah tiada, dan uang yang simbok pegangpun pas – pasan. Mau mengirim surat kepadamu simbok tidak bisa, kamu tahukan simbok buta huruf. Mau minta tolong kepada siapa lagi, sedangkan kamu adalah anakku satu – satunya. Kamu tidak mempunyai saudara yang bisa simbok mintai tolong untuk mengirimkan surat kepadamu, sedangkan anakmu, andra masih kelas 1 SD”.
Mendengar penuturan ibunya, martini langsuung menangis, ia sedih marah dan kalut.
“mengapa simbok tidak melaporkannya ke pak kadus dan pak kades, dan beliaupun sudah berjanji untuk membantu simbok. Namun sampai saat ini simbok belum mendapatkan jawabannya. Sedangkan suamimu sendiri dan istri barunya , tampak tak peduli denagn suara – suara miring para tetangga. Dan untuk lapor ke KUA, simbok tidak berfikir sampai kesitu, maafkan simbok,” tambah ibunya dengan suara yang terdengar bergetar.
“Duh Gusti...., paringono sabar...,." terdengar Martini terisak, berusaha untuk tetap ingat kepada Yang Maha Kuasa. Bagaimana bisa, suami yang begitu ia cintai dan ia percaya, dapat berbuat begitu kejam terhadapnya. Apalagi ia sekarang tinggal bersama istri barunya, di rumah hasil jerih payahnya selama tiga tahun merantau di Arab Saudi.
"Mbok, di mana rumah baru itu berada?”
wajah ibunya terlihat ketakutan, ia tidak tahu apa yang akan dilakukan anaknya dalam keadaan kalut di sana apabila ia tahu letak rumah tersebut.
"Mbok,d i mana Mbok,” Suara Martini semakin tinggi, namun ibunya tetap diam.
,”Kenapa simbok tidak mau membertihu. Apakah Simbok merestuinya?_Apakah simbok mendukungnya? Apakah Simbok membela bajingan itu dari pada saya anakmu sendiri? Apakah.....”
“Diam Tini, teganya kamu menuduh ibumu seperti itu. Kamu mau menjadi anak durhaka? Ingatlah kamu kepada Tuhan,Nak, ingatlah kepada Gusti Allah,N ak"
Kalimat itu muncul dari mulut ibunya, yang kemudian terduduk menangis mendengar ucapan pedas anaknya tersebut.
“ya sudah kalau Simbok tidak mau memberitahu. Tini akan cari sendiri rumah itu,” teriak Martini seraya meninggalkan ibunya yang sangat bersedih, yang berusaha mengejarnya namun kemudian jatuh tersungkur di halam depan rumahnya karena tidak mampu lagi mengeiarnya.
“Hei , mana Koko, bajingan sialan,"teriak Martini sambil berjalan membabi buta, menyusuri jalan dengan muka merah Padam.
Didalam benak Martini berbaur rasa senang, rindu dan haru. Beberapa jam lagi ia akan berjumpa
kembali dengan suaminya, mas Koko dan putranya Andra Mardianto, yang ketika ia tinggalkan masih berusia tiga tahun. Ia membayangkan putranya kini telah duduk dibangku sekolah dasar mengenakan seragam putih – merah dan menmpati rumahnya yang baru, yang dibangun oleh suaminya dengan uang yang ia kirimkan dari arab Saudi, Negara dimana selama ini ia bekerja.
Martini adalah seorang tenaga kerja wanita yang berhasil diantara banyak kisah mengenai tenaga kerja wanita yang nasibnya kurang beruntung. Tidak jarang seorang TKW pulang ketanah airnya dalam keadaan hamil tanpa jelas siapa ayah sang janin yang dikandungnya. Atau disiksa, digilas dibawah setrikaan bersuhu lebih dari 110 derajat celcius, atau tiba – tiba menjadi bahan pemberitaan di media massa tanah air karena sisa hidupnya yang sudah ditentukan oleh vonis hakim untuk bersiap menghadapi tiang gantungan atau tajamnya logam pancung yang kemudian membuat kedubes RI, Deplu dan Depnaker kelimpungan dan tampak lebih sibuk.
Sangatlah beruntung bagi Martini mempunyai majikan yang sangat baik, bahkan dalam tiga tahun ia bekerja, ia telah dua kali melaksanakan umroh dengan biaya sang majikan. Majikannya adalah seorang karyawan disalah satu perusahaan minyak disana. Ia bekerja sebagai seorang pembantu rumah tangga di El Riyadh dengan tugas khusus mengasuh putra sang majikan yang sebaya dengan Andra, putranya. Hal ini membuatnya selalu teringat putranya sendiri dan menambah semangat dalam bekerja.
Dengan cermat Martini memperhatikan sekeliling, akan tetapi ia tidak melihat seorang saudara atau kerabatpun yang ia kenal. Sempat terbersit rasa iri dan kecewa ketika ia menyaksikan beberapa rekanannya yang dijemput dan disambut kedatangannya oleh orang tua, anak atau suami mereka. Namun dengan segera ia membuang jauh – jauh pikiran tersebut. Ia tidak ingin suuzon dengan suaminya.
“mungkin hal ini disebabkan karena kedatanganku yang memang terlambat tiga hari dari jadwalkepulangan yang direncanakan sebelumnya,” pikirnya huznuzon.
Dan pikiran ini malah membuatnya merasa bersalah, karena ia tidak memberitahukan kedatangannya melalui telepon sebelumnya.
Akhirnya ia memutuskan untuk menuju terminal pulogadung dengan taksi bandara. Oleh karena ia tidak tahu dimana pool bus maju lancar terdekat dari bandara soekarno-hatta, ia berharap diterminal pulogadung ia bisa langsung menemukan bus tersebut dan membawanya ke wonosari dengan nyaman, karena badannya sekarang sudah terlalu letihuntuk perjalanan panjangyang ditempuh dari arab Saudi.
Tanpa ia sadari, martini telah sampai didepan rumahnya, rumah yang merupakan warisan ayahnya, yang ia huni bersama mas koko, andra dan ibunyayang telah renta. Namun bingung dan pertanyaan muncul dalam benaknya. Yang ia lihat hanyalah rumah tua tanpa berubahan sedikitpun, kecuali kandang sapi didekat rumahnyayang kini telah kosong. Sama keadaanya dengan tiga tahun lalutatkala ia meninggalkan rumah tersebut.
“ mana rumah baru yang mas koko bangun seperti yang ada difoto yang mas koko kirimkan tiga bulan yang lalu. Apakah ia membeli tanah ditempat lain dan membangunnya disana. Kalau begitu syukurlah,” pikirnya mencoba huznuzon.
Ia ketuk perlahan – lahanpintu rumahnya. Namun tidak ada seorangpun yang muncul membukakan pintu “kulo nuwun, mas…! Andra…! Mbok…!”
Beberapa saat kemudian barulah pintu yang terbuat dari kayu glugu tersebut terbuka.” Madosi sinten mbak?” Tanya seorang bocah berusia 6 tahun yang tak lain adalah andra yang muncul dari balik pintu.
“Andra aku ini ibumu, sudah lupa ya. Apakah bapakmu tidak menceritakan ihwal kedatanganku?” ucap martini balik bertanya.
“Ayah? Kedatanagn ibu? Oh mari masuk. Sebentar ya, andra bangunkan mbah dulu,” ujar Andra sambil berlari menuju kearah kamar neneknya.
Martini masuk kedalam rumah dan duduk diatas amben yang terletak disudut ruangan depan, seraya memperhatikan keadaan didalam rumah yang ia huni sejak kecil tersebut. Keadaan dalam rumahpun tidak tampak ada perubahan yang berarti.
“Martini ya. Wah – wah anakku sudah datangdari perantauan,” terdengar suara tua khas ibu martini sedang setengah berlari keluar dari kamarnya, menyambut kedatangan anaknya, diikuti oleh andra , membawakan segelas the hangat.
“bagaimana keadaan simbok disini?”, Tanya martini.
“oh, anakku simbok di sini baik – baik saja, kamu sendiri bagaimana, tini?” “saya baik – baik saja mbok, ngomong – ngomong mas koko dimana mbok?” Tanya martini. Mendengar pertanyaan itu, tiba – tiba air muka ibu martini berubah, ia tampak berpikir – piker sejenak.
“ oh mengenai suamimu, nanti akan simbok ceritakan, sebaiknya kamu ngaso dulu. Kau pasti capek setelah melakukan perjalanan jauh. Jangan lupa the hangatnya diminum dulu,” saran ibu martini.
Martini menurut saja apa yang dikatakan ibunya. Setelah menikmati segelas the hangat, ia mengangkat kaki dan tiduran di atas amben. Namun tetap saja ia tidak dapat memejamkan matanya. Pikirannya tetap melayang memikirkan suaminya ; dimana dia, apakah dia merantau ke Jakarta untuk turut mencari nafkah diperantauan, dimana letak rumah barunya, atau apakah mas koko malah meninggalkan dirinya dan menikah dengan wanita lain?”
“ah tidak mungkin,” pikirnya kembali berusaha untuk tetap huznuzon.
Ia mencoba bangkit lalu menemui ibunya yang sedang memasak dipawon.
“maaf Mbok, dimana mas koko, tini sudah kangen dan ingin berbicara dengannya,” ujar martini membuka kembali percakapan. Ibu martini tampak kembali berfikir sejenak, lalu berdiri dan mengambil segelas air putih dingin dari kendi.
“ minumlah air putih ini agar kamu lebih tenang, Tini, nanti simbok ceritakan di mana suamimu berada, kalau kamu memang sudah tidak sabar.”
Sementara itu martini bersiap untuk mendengarkan dengan seksama penuturan ibunya.
“ tiga bulan lalu rumah yang dibuat suamimu atas biaya dari kamu sudah jadi. Letaknya didusun sebelah sana, namun sejak itu pula kesengsem sama seorang wanita. Wanita itu adalah tetangga barunya. Dua bulan lalu mereka menikah dan meninggalkan andra bersama simbok. Tentu saja simbok marah besar kepadanya. Namum apa daya, simbok hanyalah wanita yang sudah renta, sedang ayahmu sudah tiada, dan uang yang simbok pegangpun pas – pasan. Mau mengirim surat kepadamu simbok tidak bisa, kamu tahukan simbok buta huruf. Mau minta tolong kepada siapa lagi, sedangkan kamu adalah anakku satu – satunya. Kamu tidak mempunyai saudara yang bisa simbok mintai tolong untuk mengirimkan surat kepadamu, sedangkan anakmu, andra masih kelas 1 SD”.
Mendengar penuturan ibunya, martini langsuung menangis, ia sedih marah dan kalut.
“mengapa simbok tidak melaporkannya ke pak kadus dan pak kades, dan beliaupun sudah berjanji untuk membantu simbok. Namun sampai saat ini simbok belum mendapatkan jawabannya. Sedangkan suamimu sendiri dan istri barunya , tampak tak peduli denagn suara – suara miring para tetangga. Dan untuk lapor ke KUA, simbok tidak berfikir sampai kesitu, maafkan simbok,” tambah ibunya dengan suara yang terdengar bergetar.
“Duh Gusti...., paringono sabar...,." terdengar Martini terisak, berusaha untuk tetap ingat kepada Yang Maha Kuasa. Bagaimana bisa, suami yang begitu ia cintai dan ia percaya, dapat berbuat begitu kejam terhadapnya. Apalagi ia sekarang tinggal bersama istri barunya, di rumah hasil jerih payahnya selama tiga tahun merantau di Arab Saudi.
"Mbok, di mana rumah baru itu berada?”
wajah ibunya terlihat ketakutan, ia tidak tahu apa yang akan dilakukan anaknya dalam keadaan kalut di sana apabila ia tahu letak rumah tersebut.
"Mbok,d i mana Mbok,” Suara Martini semakin tinggi, namun ibunya tetap diam.
,”Kenapa simbok tidak mau membertihu. Apakah Simbok merestuinya?_Apakah simbok mendukungnya? Apakah Simbok membela bajingan itu dari pada saya anakmu sendiri? Apakah.....”
“Diam Tini, teganya kamu menuduh ibumu seperti itu. Kamu mau menjadi anak durhaka? Ingatlah kamu kepada Tuhan,Nak, ingatlah kepada Gusti Allah,N ak"
Kalimat itu muncul dari mulut ibunya, yang kemudian terduduk menangis mendengar ucapan pedas anaknya tersebut.
“ya sudah kalau Simbok tidak mau memberitahu. Tini akan cari sendiri rumah itu,” teriak Martini seraya meninggalkan ibunya yang sangat bersedih, yang berusaha mengejarnya namun kemudian jatuh tersungkur di halam depan rumahnya karena tidak mampu lagi mengeiarnya.
“Hei , mana Koko, bajingan sialan,"teriak Martini sambil berjalan membabi buta, menyusuri jalan dengan muka merah Padam.
Pikrannya kacau balau.
“Buat apa aku bekerja jauh-jauh mencari uang di Arab Saudi demi kamu dan.Andra tetapi mengapa kau tega memanfaatkanku, menggunakan uangku untuk membuat rumah dan tinggal di sana bersama istri barumu,
Kurang apa aku?”
Mendengar teriakan Martini, kontan para tetangga di sekitar situ segera berhamburan ke luar rumah. Mereka kebingungan menyaksikan ulah Tini yang sudah tidak mereka lihat selama tiga tahun, tiba – tiba muncul kembali di dusun itu dengan tingkah laku yang berubah 180 derajat. Martini yang dulunya lembut, penurut, kini kasar dan beringasan. Apakah ia telah gila? Apakah yang telah terjadi terhadap dirinya di Arab saudi? Apakah ia
Dianiaya sebagaimana sering terdengar berita di media massa mengenai TKW yang disiksa?.
Namun kemudian mereka segera menyadari. Hal ini pasti karena Martini telah mengetahui perbuatan suaminya. Segera saja mereka mengejar dan mencoba menenangkan Martini. Namun dengan kuat Martini mencoba melepaskan tangannya dari dekapan tetangganva itu. Dan saat itu pula ia melihat suaminya, ya Koko bajingan itu, keluar dari rumahnya. Koko tampaknya tidak menghiraukan kedatangannya. Bahkan istri barunya itu
terlihat dengan mesranya berdiri disamping koko yang meletakkan keduavtangannya dipinggang koko.
,,” hei, siapa kamu. Tini ya. Kenapa kamu kesini? Ini rumahku bersama mas koko. Bukannya kamu sudah mati, kalau belum mendingan kamu mati saja sekarang. Itu lebih baik, dari pada mau merusak kebahagiaan kami. Bukan begitu mas koko?” ujar wanita yang ada disebelah koko sambil mengalungkan tangan kanannya dileher koko dengan lembutnya.
Hal ini jelas membuat tini makin marah.
“hai , dasar kau, wanita murahan, tidak tahu diri. Koko adalah suamiku. Dan kau koko, mengapa kau tega menipuku, meninggalkanku hanya untuk menikahi wanita keparat ini. Dasar bajingan.”
Dekapan tetangga yang memegang Martini akhirnya lepas. Dengan cepat Martini meraih sebuah bamboo yang tergeletak di bawah pohon nangka dan berlari menuju kearah koko dan istri barunya. Dengan tidak hati-hati ia menaiki anak tangga yang menuju kedalam rumah baru itu. Secepat kilat ia mengayunkanbambu itu ke arah mereka berdua. Namun malang, belum sampai bamboo itu mengenai sasaran, ia kehilangan keseimbangan. Ia terpeleset dari dua anak tangga dan jatuh terjerembab tak sadarkan diri.
“Buat apa aku bekerja jauh-jauh mencari uang di Arab Saudi demi kamu dan.Andra tetapi mengapa kau tega memanfaatkanku, menggunakan uangku untuk membuat rumah dan tinggal di sana bersama istri barumu,
Kurang apa aku?”
Mendengar teriakan Martini, kontan para tetangga di sekitar situ segera berhamburan ke luar rumah. Mereka kebingungan menyaksikan ulah Tini yang sudah tidak mereka lihat selama tiga tahun, tiba – tiba muncul kembali di dusun itu dengan tingkah laku yang berubah 180 derajat. Martini yang dulunya lembut, penurut, kini kasar dan beringasan. Apakah ia telah gila? Apakah yang telah terjadi terhadap dirinya di Arab saudi? Apakah ia
Dianiaya sebagaimana sering terdengar berita di media massa mengenai TKW yang disiksa?.
Namun kemudian mereka segera menyadari. Hal ini pasti karena Martini telah mengetahui perbuatan suaminya. Segera saja mereka mengejar dan mencoba menenangkan Martini. Namun dengan kuat Martini mencoba melepaskan tangannya dari dekapan tetangganva itu. Dan saat itu pula ia melihat suaminya, ya Koko bajingan itu, keluar dari rumahnya. Koko tampaknya tidak menghiraukan kedatangannya. Bahkan istri barunya itu
terlihat dengan mesranya berdiri disamping koko yang meletakkan keduavtangannya dipinggang koko.
,,” hei, siapa kamu. Tini ya. Kenapa kamu kesini? Ini rumahku bersama mas koko. Bukannya kamu sudah mati, kalau belum mendingan kamu mati saja sekarang. Itu lebih baik, dari pada mau merusak kebahagiaan kami. Bukan begitu mas koko?” ujar wanita yang ada disebelah koko sambil mengalungkan tangan kanannya dileher koko dengan lembutnya.
Hal ini jelas membuat tini makin marah.
“hai , dasar kau, wanita murahan, tidak tahu diri. Koko adalah suamiku. Dan kau koko, mengapa kau tega menipuku, meninggalkanku hanya untuk menikahi wanita keparat ini. Dasar bajingan.”
Dekapan tetangga yang memegang Martini akhirnya lepas. Dengan cepat Martini meraih sebuah bamboo yang tergeletak di bawah pohon nangka dan berlari menuju kearah koko dan istri barunya. Dengan tidak hati-hati ia menaiki anak tangga yang menuju kedalam rumah baru itu. Secepat kilat ia mengayunkanbambu itu ke arah mereka berdua. Namun malang, belum sampai bamboo itu mengenai sasaran, ia kehilangan keseimbangan. Ia terpeleset dari dua anak tangga dan jatuh terjerembab tak sadarkan diri.
”Mbak – Mbak bangun Mbak. Mau turun
di mana Mbak. Ini sudah sampai di wonosari," terdengar sayup-sayup suara
pemuda yang duduk di dekat Martini.
"Astaghiirullaahaladzlm .Ha...apa...?.. W onosari," Tanya M artini.
“ Ya Mbak sepertinya dari tadi Mbak gelisah tidurnya" ujar pemuda itu
”Apakah benar ini wonosari?" Tanya Martini memastikan seraya mengarahkan pandangannya keluar jendela.Ya ini adalah daerah yang telah tiga tahun ia tinggalkan.
"Alhamdulillah ya. ,Allah terima kasih," batin Martini bahagia.
"Astaghiirullaahaladzlm .Ha...apa...?.. W onosari," Tanya M artini.
“ Ya Mbak sepertinya dari tadi Mbak gelisah tidurnya" ujar pemuda itu
”Apakah benar ini wonosari?" Tanya Martini memastikan seraya mengarahkan pandangannya keluar jendela.Ya ini adalah daerah yang telah tiga tahun ia tinggalkan.
"Alhamdulillah ya. ,Allah terima kasih," batin Martini bahagia.
UNSUR INTRINSIK
· Tema : percayalah pada niat baikmu
· Latar :
Tempat : dalam bis(dalam perjalanan)
dan di kampung
Waktu : tiga tahun
setelah kepergian martini ke Arab Saudi
Suasana : diawal cerita suasana yang
timbul basa saja, tetapi pada pertengahan cerita suasana yang timbul
Menegangkan karena adanya konflik yang timbul ketika tokoh utma bermimpi
· Plot/alur : alur cerita itu adalah alur
maju(episode) karena jalan cerita dijelaskan secara runtut. Pada awal cerita
diawali dengan pengenalan tokoh, kemudian si tokoh bermimpi, pada mimpinya
timbul suatu
pertentangan yang berlanjut ke konflik(klimaks) dilanjutkan dengan
antiklimaks dan pada akhir cerita
terdapat penyelesaian.
· Perwatakan :
Tokoh utama(martini) : wataknya yang
sabar,lembut ,pekerja keras, bertanggung jawab terhadap
keluarga, hal ini di tunjukan dari penjelasan tokoh,penggambaran fisik
tokoh serta
tanggapan tokoh lain terhadap tokoh utama
Tokoh pembantu :
Mbok : sabar
Andra : patuh terhadap orang tua
Mas koko : tidak bertanggung jawab terhadap keluarga
· Sudut pandang : orang ketiga
· Mood/suasana hati :
kecurigaan,kesabaran,kecemburuan,penyesalan,kebahagiaan
· Amanat :
-Seharusnya suami
bertanggungjawab untuk mencari nafkah bagi anak dan istrinya
-Jangan dulu bersikap su’udzon kepada seseorang bila belum ada buktinya
- Keuletan dan kesabaran dalam bekerja akan membuahkan hasil yang baik
- Selalu berniat baik untuk mendapatkan ridho Allah swt
UNSUR EKSTRINSIK
· Nilai moral :
Dalam cerpen tersebut terdapat kandungan nilai
moral yaitu seseorang haruslah bersikap huznudzon terhadap sesama
manusia, karena husnudzon mencerminkan akhlak serta budi pekerti yang
baik.
· Nilai Sosial-budaya :
cerita pada cerpen tadi mempunyai kaitan
yang sangat erat dengan kehidupan kita sehari-hari. Bahwa
kebanyakan orang yaitu wanita pergi merantau ke negeri orang demi membantu
perekonomian keluarga seperti menjadi TKW, sedangkan suaminya menunggu
dirumah, untuk dikirimi uang dari istrinya tanpa berpikir , susahnya mencari
uang dinegeri orang, sedangkan dia sendiri tidak bekerja. Namun, hal ini
bertolakbelakang dengan budaya serta tradisi, bahwa yang wajib mencari nafkah
untuk keluarganya adalah suami. Karena suami adalah pemimpin dalam rumah
tangga, jadi ia harus bertanggungjawab terhadap keluarganya. Tetapi, hal ini
rupanya sudah banyak terjadi di masyarakat, sehingga tidak jarang pula
orang-orang yang menjumpai hal tersebut.
ANALISIS
JUDUL : SENYUM TERAKHIR
UNSUR INTRINSIK
·
Tema
: Persahabatan Sejati
·
Setting
:
1.
Tempat
: Taman, sekitar kompleks rumah, rumah Zacky, jalan menuju sekolah, sekolah,
bus.
2.
Waktu
: Pagi, siang, petang.
3.
Suasana
: Menyenangkan, asik, seru, manis, tragis, sedih, mengharukan.
·
Alur
: Maju
·
Amanat
:
1.
Hargailah semua waktu-waktu
kebersamaan bersama sahabatmu, karena kita tak pernah tahu kapan akan berpisah
selamanya dengannya.
2.
Sayangilah sahabatmu dengan tulus
dari hati hingga akhir waktu.
·
Nilai
:
1.
Sosial
:
Sehabis menggendong Tamara
punggungku rasanya ingin copot, benar juga kata Tamara badannya berat. Tapi,
tidak apalah dari pada sahabat aku Tamara gak pulang ke rumah.
Tamara meminta izin mengantar aku
pulang. Sambil memegang jemari-jemariku dan sesekali memegang keningku. Tamara
selalu bertanya tentang keadaanku. Tapi, aku hanya bisa menjawabnya dengan
kalimat, “Aku baik-baik saja kok, gak usah khawatir”.
UNSUR EKSTRINSIK
·
Latar kepengarangan
penulis :
Penulis cerpen ini adalah seorang
remaja pria sekaligus pelajar. Baru mulai belajar menjalin persahabatan dengan
seorang wanita. Di mana ending dari kisahnya adalah sedih. Tapi dapat
membuktikan, bahwa persahabatan sejati yang dijalin hingga akhir hayat itu
masih ada.
·
Keyakinan
penulis
: -
·
Masyarakat
pembaca
:
Kalangan remaja mungkin lebih
menggemari cerpen ini. Karena di samping menceritakan tentang kehidupan
persahabatan di kalangan remaja, kalimatnya pun dikemas ringan, sehingga mudah
dipahami.
Payung
Hitam
Oleh : Kurniawan Lestanto
“Non,
bangun non.” kata seorang perempuan paruh baya, sambil mengetuk pintu kamar.
Berkali-kali diketuknya pintu kamar tersebut. Tapi, belum ada respon dari sang
pemilik kamar. Baru ketukan ketiga, terdengar suara anak perempuan yang menyahuti ketukan kamar tersebut.
“Males!” teriak anak perempuan itu. Hah?
Males? Hei! Seharusnya kamu bersyukur masih bisa bersekolah. Coba kamu tengok
ke pinggiran kota. Masih banyak anak-anak yang tidak bisa bersekolah.
“Tapi non… Sudah siang, nanti sekolahnya
terlambat.” kata wanita paruh baya itu yang sekarang kita
ketahui bernama bi Inah.
“Kenapa bi? Gak mau bangun tuh anak?” kata
seorang pemuda berambut coklat yang entah darimana asalnya itu. Bi Inah menoleh ke
pemuda yang berdiri di belakangnya itu.
“Iya den. Itu si non katanya males, aduh gimana nih den? Nanti
bibi diomelin tuan and nyonyah.” kata bi Nha cemas.
“Yaudah biar saya aja bi yang bangunin tuh anak,” usul pemuda itu.
“Tapi den?” kata bi nha tambah cemas.
“Udah biarin saya aja” paksa pemuda itu.
Akhirnya bi Nha pun mengalah dan kembali kedapur. Dalam
hitungan jari, akhirnya
pemuda itu mengetuk pintu berwarna merah maroon itu dengan sangat
kerasnya. Rusak dah tuh pintu. Tok… Tok… Tok…
“ADE BANGUN GA!!! Nanti abang bilangin mamih papih loh?” ancam
pemuda itu. Huh, beraninya main ngacem. Payah sekali pemuda ini. Benar-benar
payah.
“BILANG AJA! GAK TAKUT!!!” teriak perempuan itu tak kalah
kencangdari dalam kamar.
“Masa gitu? Ayo cepetan sekolah, nanti COKLAT dan
baju plus topi dari Swiss gak bakal abang kasih loh!”
ancam pemuda itu.
Akhirnya pintu kebuka, keluarlah seorang gadis imut
nan manis. Bisa dilihat rambutnya yang berwarna kuning emas
itu sedikit acak-acakan.
“Iya aku sekolah, tapi kasih yah coklat dan pesenanku ya?” kata gadis itu sambil
tersenyum manja. Pemuda itu tersenyuma lebar.
“Iya beneran, cepetan mandi langsung kemeja makan. Nanti
telat!” kata pemuda itu
dengan bijak lalu melangkah pergi meninggalkan anak perempuan itu.
“Oke,” jawab gadis itu dengan semangat
dan langsung masuk kekamar menuju kamar mandi.
Setelah kejadian beberapa menit yang lalu atau mungkin
jam, akhirnya mereka pun sampai disekolah. Sang adik pun turun dari mobil, dan
segera pamit ke kakaknya. Kakaknya pun langsung berangkat ke kampusnya.
“DOR!!!!!” ‘astagah siapa itu ? bikin jantungan saja,’
pikir Rika dalam hati. Rika pun membalikan badan kebelakan terlihatlah seorang
laki-laki berparas tinggi dan tampan, yang hampir saja membuat Rika mati dipagi
hari karena terkena serangan jantung.
“Shin!!! Kau hampir saja membuatku mati!” ucap Rika
sewot. Yaiyalah gimana gak sewot? Kalau lagi badmood tiba-tiba ada yang
ngagetin? Bikin orang cepet mati aja. Dan tersangka hanya nyengir merasa tidak
bersalah. Rasanya Rika ingin membunuh orang itu saja, tapi dia ingat kalau ini
masih disekolah lagi pula dia teman baik rika.
Teng..teng..teng...
Bell masuk pun berbunyi, semua anak murid lari
berhamburan masuk kedalam kelas. Maklum saja sekolah ini sangat ketat,
guru-gurunya pun selalu datang tepat waktu dan sekolah ini sangat luas, jadi
kalau tidak buru-buru mati saja riwayatmu.
-RIKA-
Hosh...hosh...hosh akhirnya nyampe kelas juga,aku
langsung melirik ke meja guru, AMAN!!! Syukurlah gurunya belum datang. Langsung
saja aku masuk dan menaru tas dimeja dan menjatuhkan pantat ku ditempat dudukku
yang biasa. Ku lihat shin langsung nimbrung ketemen-temennya, huft dasar shin...
Sretttt... terbukalah pintu kelas dan menampakan guru
berparas kurang cantik dan killer. “Hei kalian! Ngapain kalian arisan
disitu?! Cepat kembali ketempat duduk masing-masing!” omel guru itu dan tidak
lupa dengan tatapan dendam nyipelet. Mereka pun lari terbirit-birit ketempat
duduk mereka. Akupun tertawa tertahan melihat tingkah mereka. Lagi, siapa suruh
bukannya langsung duduk rapih eh malah wara-wiri, hihihi.
“Sekarang kita kuis!tutup buku kalian!” kata –lebih
tepatnya perintah- bu Aisyah. Mati gue!! Gue kan belum belajar!! Mampus lu!!.
“bu, kok mendadak sih? Kita kan belum bekajar bu.” Tiba-tiba ada yang berbicara
seperti itu, aku pun pun mencari tahu, dan ternyata itu Cherry! OMG! Thank you
Cherry! Semoga dengan kamu berbicara sepertiu itu, ibu Aisyah akan memberi
keringanan kepada kita! Amin.
Dan ternyata usahanya Cherry tidak sia-sia, dang guru
pun mengizinkan anak-anaknya untuk belajar terlebih dahulu selama lima menit,
syukurlah!!! Thanks Cherry! Kamu emang the best deh! Akupun memutuskan untuk
belajar, dari pada nanti tidak bisa.
45 menit kemudian
“Cukup! Cepat kumpulkan! Yang telat tidak akan Ibu
nilai!” ancam bu Aisyah, huwaaa syukurlah aku sudah selesai. Bismillah semoga
dapat nilai bagus amin! Fufufu ku tiup lembar jawabanku, semoga dengan begitu
doaku terkabulkan amin... “Shin! Reia! Kadoi! Otsu! Cepat kumpulkan! Kalau
tidak, tidak akan saya nilai!” omel ibu Aisyah. Wasuh nih guru kerjaannya
ngomel-ngomel melulu nih. Shin dan kawan-kawan cepatlah, aku pun berdoa untuk
keselamatan mereka hahaha. “Sebentar bu, sedikit lagi.” Mohon Reia, astagah!
Wajahnya itu!! Imut bangetttt!!! Reia, semoga bu Aisyah mempan yah dengan
wajahmu itu, Amin. “yasudah, cepat kumpulkan!” ucapbu Aisyah, sepertinya dia
mulai lelah karena marah-marah melulu hahaha.
Teng... teng.. teng.. bel pelajaran selanjutnya.
Huft untung saja mereka sudah ngumpulin, kalau tidak
makin ribet ini, bu Aisyah pun pergi dan kami siap-siap untuk memasuki
pelajaran selanjutnya yaitu olah raga yey! Aku senang sekali dengan pelajaran
olah raga. “puk~” siapa neh yang nepok undakku, ku balikan badan dan kulihat
Shin tengah tersenyum kepada ku, baru saja ingin ku buka mulutku dan mengatakan
sesuatu eh dia udah duluang ngomong “Ganti baju bareng yuks?” WHAT THE......
“KYAAAA SHIN MESUMMMMM!!!!” teriakku. Astagah Shin kau mesummmm!!!!!! Kupul
saja shin dan dia malah tertawa lalu menarik tanganku yang sedang memukul-mukul
dia “hei.. hei... aku cuman bercanda.” Jelas Shin sambil tertawa, huft kukira
beneran huft dasar SHINNNNNN!!! Kau membuatku malu.
“Ihhhhhh Shinnnnn!!! Pergi sana!!!” usirku, pasti
wajahku merah banget huwaaaaaa Shinnn!!! Awas saja kau. Shin pun pergi sambil
tersenyum penuh kemenangan, sial!. “RI-CHAN~!” astagah siapa lagi manusia yang
mempunyai suara melengking dan ngagetin aku? Kenapa banyak banget orang yang
pengen aku kena serangan jantung? Ya tuhan! Apa salah hambamu?. Aku pun
berbalik arah dan ku lihat manusia ;berwajah manis berambut hitam sedang
nyengir kearahku, dan ternyata manusia itu adalah Cherry. Huft, “Apa Che-Chan?
Jangan teriak-teriak lah, suara mu tuh berisik sekali.” Ucapku datar. “hehe
maap Ri-chan.” Ucap Cherry sambil nyubit pipiku, arggghhh “Cherry sakit!!!”
ucapku kesal. “Sudahlah mendingan kita ganti baju trus caw.” Lanjutku sebelum
dia mulai cerocos gak penting yang membuat kuping sakit, “Iya deh. Yuks~”
Di lapangan
“baiklah sekarang kita akan melakukan lari marathon~!”
ucap guru olah raga yang sangat fanatik kepada warna hijau. “Baiklah guru
guy!!!” balas seorang lelaki fanatik tu guru. Lihat lah, poninya saja sama,
baju olahraganya aja sama huft dasar~.
Duhh... duh... pusing banget ini.. ya tuhan... ada apa
ini? Astagfirulloh sakit banget ini...
“Ri-chan, kenapa? Tidak apa-apa kan?” tanya Shin,
nadanya penuh dengan khawatir.
“Kepalaku sakit banget Shin... a-aduh Shin...
S-sakitttttttttt banget ini.” Ucapku dengan lirih menahan sakit, ya tuhan sakit
banget ini kepalaku..
Tess.. tess.. tesss
‘apa ini?’ kuusap hidungku dan ternyata darah? Hah?
Darah? Kudengar suara Shin memekik kaget melihat darah ditangan dan hidungku.
“Ri-chan? Kamu berdarah! astagah.” Ucap Shin khawatir dan panik, seketika semua
hitam.
-SHINTARO-
Astagah... Ri-chan... apa yang terjadi padamu sayang?.
Kugendong Ri-chan, menuju ruang kesehatan, saat tiba disana aku pun langsung
menaruh Ri-chan ditempat tidur, dan dokter sekolah pun langsung memeriksa
Ri-chan..
Ri-chan, apa yang padamu? Ri-chan bangunlah...
“Morimoto-san, sebaikanya Kamenashi-san dibawa
kedokter saja.” Ucap dokter itu. Apa? kenapa musti dibawa kerumah sakit?
Ri-chan, apa yang terjadi padamu? “Memangnya Ri-chan kenapa dok?” tanya ku
panik. “sebaiknya dibawa saja. Saya takut terjadi apa-apa terhadap
Kamenashi-san.” Jawab dokter itu kalem. Ya tuhan.... “baiklah dok, saya akan
bawa dia kerumah sakit, Cher, tolong izinin gue sama Ri-chan yah.” Ucap ku
kepada Cherry. “Iya Shin, pasti! Semoga aja tidak terjadi apa-apa ya sama
Ri-chan, amin. Lo hati-hati ya Shin.”
“sip.. thanks ya.. gue berangakt dulu ya..”
Rumah
Sakit
‘Ya tuhan ada apa ini? Ri-chan sebenernya kamu kenapa?
Kamu sakit apa?’ ku usap wajahku yang frustasi. Dokter kenapa lama banget?
Tap.. tap.. tap
“Shin-kun, Ri-chan kenapa? Dan dimana dia?” tanya
wanita cantik penuh dengan kepanikan, “Lagi diperiksa dokter tan.” Jawabku
tenang. Aku harus tenang agar orang yang didepanku tidak histeris.
Dokter pun keluar dari dari ruang UGD, kami pun segera
menghampiri dokter itu “Dok.. Gimana Ri-Chan dok?” tanya wanita itu panik
“Tenang bu, saya menyarankan Ri-chan di ST.Scan. ini baru prediksi saya,
Ri-chan mengidap penyakit leukimia.” Ucap dokter itu kalem. APA??? LEUKIMIA?
GAK MUNGKIN.... RI-CHAN!!! INI GAK MUNGKIN!!! “APA DOK? GAK MUNGKIN!!” teriak
ku ke dokter itu dan dokter itu pun menjelaskan bahwa di sekujur tubuh rika
banyak lembam dan luka yang disebabkan bukan dari luka penyiksaan atau
sebagiannya, tetapi disebabkan oleh penyakit leukimia dan kata bunda dakota
bahwa Ri-chan sering pingsan dan mimisan astaghhh kenapa bisa?
5 bulan kemudian
Ternyata Ri-chan memang mengidap penyakit leukimia, oh
astagah kenapa bisa? Kenapa? Kata dokter umur ia tidak lama lagi. Kenapa?
Bahkan aku belum menyatakan cinta.. oh tidakkk!! Kenapa? Kenapa cepat sekali??.
Wajahnya saat tidur cantik sekali tetapi pucat sekali, Ri-chan ini sungguh
seperti mimpi.. “ngggghh... Shin-kun?” tanya dia sambil tersenyum. Aku pun ikt
tersenyum, Ri-chan aku sayang kamu. Andai kamu tau itu.. “ng-nggak papa. Gimana
kamu? Sudah merasa baikan?” tanyaku mempertahankan senyum diwajahku. Ia pun
tersenyum “ya, tapi masih pusing dan tulang –tulang rasanya sakit sekali.” Ucap
dia lirih. Oh astagahhh...
“Shin-kun. Aku pusing sekali. Shin-kun tadi aku lihat
Nii-chan, kata Nii-chan sebentar lagi aku akan bersama dia, Shin-ku aku nitip
bunda dan ayah yah.. Shin-kun aku sayang kamu.” Ucap ia lirih, tidak! Kamu gak
boleh ikut kakakmu.. kamu harus disini! Walaupun kemungkinan kamu sembuh hanya
40% tapi tidak ada yang tidak mungkin! “Ri-chan, kamu ngomong apa? kamu gak
boleh ikut Yuya-nii! Kamu harus disini! Aku cinta kamu.. aku sayang kamu.”
Ucapku lirih dan aku pun menangis, ia pun menangis. “Shin-kun aku juga cinta
kamu, sayang kamu. Tapi waktu ku sudah sebentar lagi, aku akan bersama
Nii-chan. Shin-kun kamu jangan sedih, jangan nangis lagi. Aku sayang kamu
Shin-kun.” Ucap Ri-chan, oh astagah.. kenapa? Ri-chan.
Tiba-tiba Ri-chan pingsan.. oh astagah.. “DOKTER..
DOKTER... SUSTER..” teriakku memanggil dokter suster dan dokter suster pun
langsung memeriksa Ri-chan. Banyak sekali alat, oh tidak!! Ri-chan!!!
Tap.. tap.. tap..
“Shin-kun, Ri-chan gimana? Kenapa? Apa yang terjadi?”
aku merasa dejavu. Tapi bedanya wanita ini bersama dengan lelaki. Wanita ini
menangis dan lelaki itu menenangkannya, tetapi lelaki itu juga menangis,
melihat mereka menangis membuatku ingin menangis kembali. Sedih rasanya melihat
mereka seperti itu. Sakit rasanya melihat Ri-chan lagi merenggang nyawa di
dalam ruangan itu. Ya tuhan, tolong selamatkan Ri-chan, kumohon. Kumohon
tuhan.. tolong selamatakan Ri-chan...
“dok, dok gimana Ri-chan?!” ucap wanita itu setengah
memekik. Dan dokterpun hanya nunduk. Ya tuhan kumohon jangan!! Jangan!! Jangan
sekarang!! Kumohon!!!
“maafkan kami, kami sudah berusaha sebaik mungkin.”
Ucap dokter itu penuh rasa bersalah. “TIDAKKKKK!!! DOK!! GAK MUNGKIN!! INI
SEMUA GAK MUNGKIN!!! DOK, KEMBALIKAN RI-CHAN!!!” oh ya yatuhan... kenapa?
Kenapa bisa? Tuhan. Kenapa kau ambil ia begitu cepat? Kenapa?
35 tahun kemudian
Sudah 35 tahun yang lalu Ri-chan meninggalkan ku
tetapi, hati ini masih ada ia, ia seperti angin, aku tidak dapat melihatnya,
tetapi aku dapat merasakannya.
Hari ini adalah hari kematian Ri-chan, aku berencana
akan kemakam Ri-chan. Ini adalah acara tahunanku yang wajib diadakan. Aku pun
masuk ke mobil spotku ya, walaupun aku sadah tua tapi aku masih kuat untuk
menyetir mobil sendirian karena aku tinggal sendirian. Ya aku menjadi perjaka
tua, dan seorang workerholic, karena apa? karena hatiku telah kututup rapat
untuk yang lain. Hariku hanya milik Ri-chan, tragis memang, tapi mau diapain
lagi, memang begini adanya.
Akhirnya aku sampai di pemakaman keluarga ‘Kamenashi.’
Ku parkirkan mobil sport ini ditemapt parkir. Saat aku mau keluar, tiba-tiba
hujan deras, sialan sekali hujan ini, tapi seingetku aku menyimpan payung deh.
Aku pun mulai mencari payung dan ternyata ketemu, tiba-tiba aku inget Ri-chan,
yatuhan Ri-chan, ini adalah payung saat kamu meninggal. Aku pun tidak mau
lama-lama didalam mobil. Aku pun keluar mobil dengan payung hitam ini.
Aku pun sampai di depan makam yang bertulisan
‘Kamenashi Rika’ ku cium nisannya, dan akupun memanjatkan doa kepada tuhan agar
Ri-chan bahagia disamping tuhan, Amin. Ri-chan apa kabar kamu disana? Apakah
kamu bahagia disana? Tunggu aku Ri-chan, aku akan menyusulmu.
“Morimoto-san?” tiba-tiba ada yang memanggilku, dan
akupun menengok kearah suara dan kutemukan Wanita cantik dan lelaki tampan,
yang kuketahui mereka adalah Kamenashi Dakota dan Kamenashi Kazuya yaitu orang
tua Ri-chan.
“apa kabar? Gimana sudah nikah?” tanya wanita itu,
sudah lama aku tidak melihat mereka. Dan banyak perubahan terhadap mereka,
tubuh mereka sudah ringkih dan sepertinya sering sakit-sakitan, yatuhan kasian
sekali mereka. Apakah mereka bahagia? Kedua anak mereka telah dipanggil yang
maha kuasa, mereka tinggal berdua, yatuhan aku ingin sekali seperti mereka.
“baik-baik saja. Bagaimana dengan kalian? Apakah masih
sehat?”
“Seperti yang kamu lihat.” Aku tersenyum lirih
mendengar jawaban Om kazuya. Yatuhan, buatlah mereka bahagia, amin. Kulihat
mereka berdoa untuk Ri-chan. “baiklah kami pulang dulu, kamu sehat-sehat ya.”
Nasihat tante Dakota. “iya, hati-hati dijalan.”
Aku pun kembali menatap makam Ri-chan, setelah
kepergian kedua orang tua Ri-chan. Tuhan tolong kabulkan permohonanku karena
dia membuat Saya mempunyai cinta dalam hidup saya.dan Itu membuat saya kuat.
Dan Mungkin Tuhan punya rencana lebih besar untuk Saya daripada rencana Saya
untuk diri sendiri. Jadi saya mohon kabulkan doa saya.
Duh..duh.. jantungku sakit sakit. Yatuhan jangan
kambuh dulu kumohon. Sa-sakit, sekali... RI-CHAN? APA AKU TIDAK SALAH LIHAT?
Yatuhan, kuulurkan tanganku kiewajah Ri-chan, dan ia pun tersenyum hangat,
wajahnya makin cantik. “Shin-kun, maukah kau ikut denganku?” tanya Ri-chan,
yatuhan ini aku diajak kemana? Apakah aku diajak untuk tinggal bersama Ri-chan
dan engkau? Yatuhan aku siap kalau engkau ingin membawaku bersama. Tiba-tiba
semua gelap.
Shintaro terjatuh disebelah makam Ri-chan dan ditengah-tengahnya terdapat
payung hitam yang dipakai Shintaro dan seketika hujan pun berhenti, dan pelangi
pun mulai muncul. Dan terlihatlah Shin dan Rika sedang bergandengan tangan dan
tersenyum bahagia. Ya, payung hitam ini telah menjadi lambang cinta mereka yang
abadi. Begitupun dengan kematian mereka. Bahwa jodoh Shin adalah Rika, dan
jodoh Rika adalah Shin.
Unsur intrinsik
*Tema : kematian dan
Cinta abadi
*Penokohan :
-Rika Kamenashi : Baik,
manja, penyakitan, dan sangat sayang kepada keluarganya ( tokoh utama wanita)
-Shintaro Morimoto :
baik, sayang kepada Rika. (tokoh utama lelaki)
-Dakota Kamenashi :
ibunya Rika, orangnya baik dan gampang panik. (tirtagonis)
-Kazuya Kamenashi :
Ayahnya Rika, baik, sabar dan sayang kepada keluarganya.
-Yuya Kamenashi :
baik, sayang adik dan orang tuanya, meninggal karena kecelakaan, pada saat Rika
sakit.
-Cherry/ Mio
matsumoto : nyebelin tapi sebenernya baik, Dia adalah teman sekelas Rika dan
Shin (pemeran pembatu)
-kadoi, Reia, Otsu :
baik sekali, teman seperjuangan Shin dan Rika
-Bi Nha : pembantu
rumah tangga, orangnya baik dan sangat takut sama majikannya.
*Alur : maju
*Latar :
Tempat : rumah,
sekolah, Rumah sakit dan pemakaman
Waktu : pagi,
dan senja
Suasana : haru,
dan tegang
*Sudut pandang :
orang ketiga sebagai penulis, Orang pertama serba tahu ( Rika dan Shin)
*Amanat : janganlah
engaku terlalu berlarut-larut dalam kesedihan, dan terimalah apa yang terjadi
karena suatu saat nanti kau akan menerima kebahagian dari tuhan.
Unsur Ekstrinstik
*Nilai pendidikan :
Ya aku menjadi perjaka tua, dan seorang workerholic, karena apa? karena hatiku
telah kututup rapat untuk yang lain.
*Nilai religi :
Yatuhan, buatlah mereka bahagia, amin
yatuhan ini aku
diajak kemana? Apakah aku diajak untuk tinggal bersama Ri-chan dan engkau?
Yatuhan aku siap kalau engkau ingin membawaku bersama.
0 komentar:
Posting Komentar